Tampilkan postingan dengan label sejarah batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah batik. Tampilkan semua postingan

Penjelasan Pola Batik NITIK

Oleh: Ny Ir. Toetti T. Surjanto

Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung makna filosofis pada setiap motifnya.

Penampilan sehelai batik tradisional baik dari segi motif maupun warnanya dapat mengatakan kepada kita dari mana batik tersebut berasal. Motif batik berkembang sejalan dengan perjalanan waktu, tempat, peristiwa yang menyertai, serta perkembangan kebutuhan masyarakat. Sering kali tempat memberi pengaruh yang cukup besar pada motif batik. Meskipun berasal dari sumber atau tempat yang sama, namun karena tempat berkembangnya berbeda, maka akan menghasilkan motif baru yang berbeda pula. Sebagai contohnya adalah motif Nitik.

Motif Nitik sebenarnya berasal dari pengaruh luar yang berkembang di pantai utara laut Jawa, sampai akhirnya berkembang pula di pedalaman menjadi suatu motif yang sangat indah. Pada saat pedagang dari Gujarat datang di pantai utara pulau Jawa, dalam dagangannya terdapat kain tenun dan bahan sutera khas Gujarat. Motif dan kain tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang disebut "Patola" yang dikenal di Jawa sebagai kain "cinde". Warna yang digunakan adalah merah dan biru indigo.

Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir maupun pedalaman, bahkan lingkungan Kraton. Di daerah Pekalongan terciptalah kain batik yang disebut Jlamprang, bermotif Ceplok dengan warna khas Pekalongan. Karena terinspirasi motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan Patola. Karena kain batik Jlamprang berkembang di daerah pesisir, maka warnanya pun bermacam-macam sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah rnerah, hijau, biru dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.

Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, Nitik dari Yogyakarta juga diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain seperti, cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan ada yang diberi ornamen batik dengan Klowong maupun Tembokan, sehingga penampilannya baik bentuk dan warnanya lain dari motif Jlamprang Pekalongan. Nitik dari Yogyakarta menggunakan warna indigo, soga (coklat) dan putih. Seperti motif batik yang berasal dari Kraton lainnya, motif Nitik kreasi Kraton juga berkembang keluar tembok Kraton. Lingkungan Kraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif Nitik yang indah adalah Ndalem Brongtodiningrat. Pada tahun 1940, GBRAy Brongtodiningrat pernah membuat dokumen diatas mori berupa batik kelengan dan lima puluh enam motif Nitik. Sejak kira-kira tahun 1950 sampai saat ini, pembatikan yang membuat batik Nitik adalah Desa Wonokromo dekat Kotagede.

Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang berbeda dengan canting biasa. Canting tulis Nitik di buat dengan membelah lubang canting biasa ke dua arah yang saling tegak lurus. Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru, proses mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja, atau bila ada bagian klowongnya. Agar warna soga dapat masuk di bagian motif yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang sangat kecil tersebut, maka bagian tersebut "diuyek" sehingga pada bagian tertentu lilinnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya. Oleh karena itu untuk membuat batik Nitik memerlukan lilin khusus yaitu lilin yang kekuatan menempelnya antara lilin klowong dan lilin tembok. Langkah selanjutnyaadalah "mbironi", menyoga dan akhimya "melorod".

Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar motif Nitik di beri nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang, sekar kemuning, sekar randu, dan sebagainya. Ada pula yang di beri nama lain, misalnya, nitik cakar, nitik jonggrang, tanjung gunung dan sebagainya. Selain tampil sendiri, motif Nitik sering di padu dengan motif Parang, ditampilkan dalam bentuk ceplok, kothak atau sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagal motif untuk sekar jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu macam maupun bermacam-macam motif Nitik. Tampilan yang merupakan paduan motif Nitik dengan motif lain membawa perubahan nama, misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian dan sebagainya.

Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai arti filosofis, misalnya nitik cakar yang sering digunakan pada upacara adat perkawinan. Diberi nama demikian karena pada bagian motifnya terdapat ornamen yang berbentuk seperti cakar. Cakar yang di maksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini oleh ayam digunakan untuk mengais tanah mencari makanan atau sesuatu untuk dimakan. Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat perkawinan dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencani nafkah dengan halal sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya. Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau sebagai bagian dan motif kain tertentu, seperti motif Wirasat atau Sidodrajat, yang juga sening digunakan dalam upacara adat perkawinan.

Untuk contohnya DI SINI

read more...

Penjelasan Pola Batik CEPLOK

Sebagian besar Pola Ceplok itu merupakan pola-pola batik kuno yang terdapat pada hiasan arca di Candi Hindu/Budha dengan bentuk kotao-kotak, lingkaran, binatang, bentuk tertutup serta garis-garis miring.

Pola dasar yang terdapat pada candi Hindu di arca Ganesha dari Banon Borobudur, arca Hari Hara dari Blitar, Ganesha dari Kediri dan arca arca Parwati dari Jawa merupakan pola dasar dari pola Kawung.

Dasar pola Ceplok terdapat di arca Budha antara lain Budha Mahadewa dari Tumpang dan arca Brkhuti dari candi Jago.

Terlihat dari uraian diatas pola Kawung merupakan pola ceplok tertua dan terdiri dari 4 ragam hias elips atau lingkaran yang disusun sedemikian rupa sehingga keempatnya besinggungan satu sama lainnya dan ditengahnya terdapat ragam hias Mlinjon.

Selanjutnya elips/lingkaran ini dimodifikasi dengan menambah ragam hias isen atau mengubah bentuk sehingga diperoleh pola kawung yang indah dan beragam dengan nama beragam pula, antara lain kawung prabu, brendi, geger mendut, gelar, sisik dan sebagainya.

Dari ukuran lingkaran juga diciptakan berbagai pola seperti kawung ndil, sen, benggol, semar, raja dan lainnya.

Pola Kawung seperti halnya pola nitik, pola banji, pola ganggong karena jumlahnya sangat banyak sering dikelompokan sebagai pola tersendiri. Dengan demikian pembagian golongan dalam pola geometris menjadi golongan Ceplokan, golongan pola Kawung, Pola Nitik, Pola Ganggong, Pola Banji, Pola Parang dan pola Lereng.

Pola Ceplok kuno Yogyakarta adalah dari keraton Kotagede [Mataram] sedangkan pola Ceplok Surakarta diciptakan setelah pembagian kerajaan Mataram menjadi dua.

Kadang ada pola yang dinamakan sama tetapi polanya beda antara satu tempat dan lainnya, seperti pola ceplok Yogya kadang mempunyai nama sama dengan pola semen Surakarta, contohnya pola ceplok Kokrosono di Yogya kalau di Surakarta dikenal sebagai pola Semen.

Untuk contohnya DI SINI

sumebr : javabatik.org

read more...

Penjelasan Pola Batik SEMEN

Oleh : Ny. Toetti Toekajati Soerjanto

I. Pendahuluan

Pola batik semen tampil dalam batik dari setiap daerah, terutama di Pulau Jawa, yang meliputi antara lain Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Cirebon. Pola batik semen dijumpai terutama pada jenis Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran, Batik Petani, dan Batik Indonesia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pola batik semen terdapat pada sebagian besar jenis batik. Pola semen sangat mudah dikenali karena mempunyai ragam hias penyusun yang khas yang selalu hadir dalam pola-polanya.

II. Sejarah Pola Semen

Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan Paku Buwono IV (1787 1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota sebagai calon penggantinya. Beliau menciptakan pola tersebut guna mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang penguasa seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan Wibisana saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan sebutan Hasta Brata.

Wejangan ini terdiri dari 8 (hasta) hal yang masing-masing ditampilkan dalam pola semen dengan bentuk ragam-ragam hias yang mempunyai arti filosofis sesuai dengan makna masing masing ragam hias tersebut. Oleh karena itu, pola batik ciptaan beliau tersebut diberi nama semen Rama (dari Prabu Rama). Berdasarkan uraian diatas nampak bahwa pola semen merupakan salah satu pola batik yang mencerminkan pengaruh agama Hindhu-Budha pada batik. Hal tersebut dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu kira-kira pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, abad 17 M), peradaban di kerajaan tersebut masih mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat dipengaruhi oleh agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada unsur-unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga unsur-unsur yang terdapat dalam upacara adat dan keagamaan hingga saat ini.

Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak zaman Mataram (pada masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong lebih muda. Pola semen yang diciptakan setelah pola semen Rama selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu ragam hias yang selalu harus dihadirkan dan merupakan ciri dari sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau meru. Hal ini disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias tersebut.

Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal dari kata Mahameru yaitu gunung tertinggi tempat bersemayam para dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat tanah tempat tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.

Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain pola-pola batik Lung-lungan Buketan, Dan Pinggiran.

III. Perkembangan Pola Semen

Sebagaimana disebutkan diatas, pola semen pertama-tama menampilkan ragam-ragam hias yang mengikuti arti filosofis agama Hindhu (diambil dari ceritera Ramayana), sehingga arti filosofis pola semen sesuai dengan ajaran yang terdapat dalam Hastabrata Ramayana.

Dalam perkembangan selanjutnya, kandungan nilai filosofis pola semen, selain yang dilambangkan oleh ragam hias dari Hastabrata, ada pula yang ditambah dengan ragam-ragam hias lain yang menjadi dasar pemberian nama polanya, sebagai contoh adalah pola semen Gajah Birawa. Dalam pola tersebut nampak adanya ragam hias berupa gajah, pada semen rante terdapat bentuk-bentuk seperti rantai, dan seterusnya. Selain itu, banyak pola semen dengan ragam hias pokok yang sudah mengalami improvisasi sesuai selera penciptanya tetapi tetap alam arti filosofis yang sama, diberi nama yang mempunyai arti sebagai cerminan serta harapan. Sebagai contoh adalah semen Sidoasih dengan berbagai versi namun mencerminkan arti yang sama.

IV. Jenis jenis batik yang memiliki pola semen

1. Batik Kraton - Kraton Yogyakarta (semen gurdho, semen sinom), Kraton Surakarta (semen gendhong, semen rama), Puro Pakualaman (semen sidoasih), Puro Mangkunegaran (semen jolen), Cirebon (semen rama, sawat pengantin).

2. Batik Pengaruh Kraton - Banyumas (semen klewer banyumasan).

3. Batik Sudagaran - Yogyakarta (semen sidoasih, semen giri), Surakarta (semen rama, semen kakrasana).

4. Batik Pedesaan - Yogyakarta (semen rante), Surakarta (semen rama).

5. Batik Indonesia
Bermacam-macam pola semen terdapat dalam jenis Batik Indonesia ini. Bahkan pada pemunculan pertamanya yaitu kurang lebih pada tahun 1950, pola batik semen mendominasi jenis Batik Indonesia ini disamping pola parang dan lereng karena pada prinsipnya Batik Indonesia merupakan perpaduan antara pola batik klasik atau tradisional (pola semen dan pola parang atau lereng) dengan pewarnaan Batik Pesisiran.

Untuk contohnya DISINI
read more...

Makna Spiritual Batik Jawa

BATIK TIDAK HANYA MENAMPILKAN KEINDAHAN UJUD SECARA KASAT MATA. MELAINKAN JUGA MENYIMPAN KEDALAMAN SPIRITUAL YANG DIPANCARKAN MELALUI MOTIF-MOTIFNYA YANG “SAKRAL”. TAK MENGHERANKAN JIKA JENIS KAIN KEMUDIAN RAJIN MENYERTAI DAUR KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. SEJAK LAHIR HINGGA AJAL TIBA.

Hal serupa pernah disampaikan oleh Sri Sultan HB X saat meresmikan Museum Batik di Kraton Yogyakarta 2005 silam. “Sejak lahir, menjalani hidup di dunia hingga meninggal, dibungkus dengan kain batik. Batik sangat dekat dengan kehidupan. Khususnya dalam lingkungan keluarga.”

Kedekatan batik dengan kehidupan masyarakat Jawa telah menjadikannya bagian hidup yang tak terpisahkan. Melalui selembar kain dengan goresan warna lembut terlukis di atasnya, bisa terlihat gambaran hidup masyarakat Jawa secara keseluruhan. Itulah yang membuat batik menjadi karya seni sangat istimewa. Baik dalam proses pembuatan, filosofi yang terkandung, hingga etika dan tata cara pemakaiannya.

Sebagai pusaka warisan leluhur, proses pembuatan kain batik dilakukan dengan melibatkan seluruh indera perasa. Merunut jauh ke belakang, kain yang bersumber dari dalam kraton dan menjadi ageman dalem ingkang sinuwun ini, tak jarang dibuat melalui serangkaian ritual tertentu. Apalagi dahulu, batik dikerjakan sendiri oleh putri-putri kraton.

“Dulu, mereka sering nglakoni yang terwujud dalam puasa dengan mengurangi diri dari makan, minum, tidur, dan kesenangan duniawi yang lain, serta bersemedi. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik,” ungkap Ir Toetti T Soerjanto.

Menurut wanita yang mengaku sangat mencintai batik ini, pada zaman dulu membatik merupakan kegiatan yang penuh nilai rohani. Selain memerlukan pemusatan pikiran dan kesabaran, juga dilakukan dengan kebersihan jiwa untuk memohon petunjuk dari Gusti Yang Murbeng Dumadi agar mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik. Dari sinilah kemudian motif batik diyakini mengandung filosofi sesuai motifnya.

Hal senada diungkapkan oleh Mari S Condronegoro. Menurut wanita keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini, ritual yang mengiringi proses pembuatan batik biasanya adalah laku puasa. Dengan berpuasa, kata Mari, diharapkan akan muncul ketenangan diri hingga bisa mendapatkan ilham untuk menciptakan motif yang baru. Biasanya, semakin penting batik yang dibuat, semakin lama pula puasa dilakukan.

Selain puasa, dilakukan pula pembacaan doa-doa. Mengikuti dhawuh dalem dulu di mana Sultan merupakan seorang Panatagama, maka doa-doa yang dibaca adalah doa-doa muslim yang merupakan agama yang dianut oleh Sultan. Dengan ritual tersebut, diharapkan proses pembuatan batik akan berlangsung lancar. Syukur bisa menghasilkan batik bernilai tinggi yang bisa memancarkan aura bagi pemakainya atau “pecah pamore”. Terlebih bila batik yang dibuat itu ditujukan atau akan dipakai oleh sinuwun atau keluarga kraton yang lain.

Meski tidak terpaparkan secara gamblang, laku ritual yang mengiringi proses membatik juga terungkap dari beberapa sumber dari njeron beteng yang turun-temurun mendapat cerita dari eyang buyut dan leluhurnya. Disebutkan, ritual dilakukan secara bertahap sebelum proses pembuatan batik dimulai. Khususnya, jika batik tersebut akan diagem oleh raja, bupati, atau lurah.

Pertama, mengadakan selamatan yang dilanjutkan dengan puasa. Kedua, menyiapkan uba rampe berbentuk kembang setaman dan jajan pasar yang diletakkan di dekat tempat yang akan digunakan untuk membatik. Waktu untuk memulai proses pembuatan batik juga dihitung berdasarkan neton atau hari lahir dan pasaran orang yang nantinya akan mengenakannya.

“Selain itu, mori atau kain yang akan dibatik harus direndam dulu selama 40 hari 40 malam. Jadi, membuat batik itu tidak asal jadi karena ada serangkaian ritual yang harus dilakukan agar auranya keluar,” ujarnya.

Terlepas dari percaya atau tidak, ada satu pengalaman tersendiri yang dialami oleh Larasati Soeliantoro Soeleman saat akan membuat kampuh untuk pernikahan salah satu putrinya dulu. Saat itu, wanita yang mengkoleksi batik-batik Jawa klasik ini meminta tolong perajin batik di Imogiri untuk membuatkan kain tersebut.

Ketika proses berlangsung, ternyata lilin batik tidak bisa keluar dari lubang canting meski berulang kali dibersihkan. Perajin batik yang mengerjakan akhirnya mengusulkan untuk mengadakan selamatan beserta pembacaan doa-doa dulu sebelum proses batik dilanjutkan. “Believe it or not, setelah ritual tersebut akhirnya pekerjaan itu berlangsung lancar,” ujar wanita yang selalu mengenakan batik ini.

Kendati begitu, diakuinya sekarang ini jarang sekali menjumpai ritual-ritual yang mengiringi proses pembuatan batik. Barangkali, selain karena motif yang dibuat kebanyakan tinggal menjimplak, juga karena batik sekarang telah diproduksi secara massal.

Filosofi pola batik

Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.

Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata “barong” berarti sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.

Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok “batik larangan”.

Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.

Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah, motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya.

Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.

Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api, Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa.

Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.

Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok kraton. Kendati begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo mengimbau masyarakat umum yang bukan kerabat kraton untuk tidak mengenakan motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam tembok kraton, untuk menjaga wibawa Sultan.

Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran, misalnya, sebaiknya jabang bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur panjang seperti sang nenek.

Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya, Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang terpandang.

“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya. Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar senada.

Etika mengenakan batik

Memahami makna filosofis dari setiap motif batik yang ada, ternyata belum bisa menjadi jaminan untuk bisa mengenakan busana batik secara benar. Sebab, masih ada serangkaian etika berikut tata cara pemakaiannya. Setiap motif, kata GBRAy Hj Murdhokusumo, membutuhkan cara pemakaian yang berbeda-beda. Baik dari penempatan waktu dan tempatnya maupun dari sisi pemakainya.

Untuk batik dengan motif Lereng, misalnya, ketika dikenakan kaum wanita harus dimulai dari kiri ke kanan. Maksudnya, kain mulai diikatkan dari sebelah kiri sehingga ujung kain akan berakhir di sebelah kanan. Sebaliknya untuk laki-laki dimulai dari sisi kanan dan ujungnya berakhir di sebelah kiri. Selain itu, garis lereng atau parang-nya harus mengadap ke bawah.

Mengenakan kain batik tak bisa dipisahkan dengan urusan wiru. Untuk melipat wiru, dimulai dengan warna putih berada di arah luar dan “wiron” harus jatuh di atas paha kanan untuk putri. Sedangkan untuk laki-laki, wiru berada di tengah dan menghadap ke arah kiri. Biasanya, wiron untuk laki-laki lipatannya lebih besar dibanding wiron untuk kain yang dikenakan perempuan.

Di lingkungan kraton, bagi generasi cucu laki-laki ke bawah dan abdi dalem, sebaiknya mengenakan wiru engkol. Sedang untuk putri, tergantung dhawuh dalem. Harus pakai wiron atau seredhan (kain yang tidak diwiru), Hal yang terlihat sepele tapi penting adalah jika mengenakan motif Gurdha, motif binatang atau kembang, maka ceploknya harus menghadap ke atas.

Saat mengenakan kain batik, tutur Mari Condronegoro, bagian mata kaki harus tertutup. Begitupun untuk bagian atas, terutama bagi perempuan, sebaiknya dibuat agak longgar sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuh pemakainya. Sepintas, potongan seperti ini terkesan tidak rapi, tetapi memang seperti inilah etika yang harus dipatuhi.

Begitulah, dari ribuan motif atau pola tradisional yang ada, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang diuraikan karena keterbatasan ruang. Apalagi untuk menganalisa makna filosofis dari simbol-simbol yang terkadang bersifat ganda dan menyejarah, diperlukan interpretasi dan reinterpretasi makna yang cerdas, jujur dan dengan kesungguhan agar makna-makna yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat Dan, dengan begitu akan bisa menambah pemahaman dan kecintaan kita terhadap batik. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan nguri-uri warisan budaya adiluhung itu?

Sumber : javabatik.org

read more...

Sejarah Motif batik kraton

PROF DR SUJOKO (ALM), PAKAR SENI RUPA DARI ITB PERNAH MENYAMPAIKAN DI YOGYAKARTA, BAHWA PELUKIS PERTAMA DARI INDONESIA ADALAH PEREMPUAN JAWA YANG “MELUKIS” DENGAN CANTING DI ATAS BAHAN TENUNANNYA.

Melukis dengan canting, sudah jelas yang dimaksud tentu membantik. Dan, merujuk pada penjelasan waktu pada kalimat sang profesor tersebut, sudah sangat menjelaskan pula bahwa batik Jawa telah lama ada, bahkan merupakan produk seni rupa paling tua di Indonesia.

Secara terminologi, kata batik berasal dari kosa kata bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan “malam” yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna.

Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanannya memunculkan Kraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.

Pada abad XVII, batik bertahan menjadi bahan perantara tukar-menukar di Nusantara hingga tahun-tahun permulaan abab XIX. Memang. Ketika itu batik di Pulau Jawa yang menjadi suatu hasil seni di dalam kraton telah menjadi komoditi perdagangan yang menarik di sepanjang pesisir utara.

Menurut Mari S Condronegoro dari trah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, di lingkungan bangsawan kraton di Jawa, kain batik dikenakan sebagai busana mereka. Kain batik di lingkungan kraton merupakan kelengkapan busana yang dipergunakan untuk segala keperluan, busana harian, busana keprabon, busana untuk menghadiri upacara tradisi, dan sebagainya. Busana pria Jawa yang terdiri dari tutup kepala, nyamping, kampuh, semuanya berupa kain batik. Begitu pula dengan kelengkapan busana putri Jawa yang juga berupa kain batik.

Dahulu, kain batik dibuat oleh para putri sultan sejak masih berupa mori, diproses, hingga menjadi kain batik siap pakai. Semuanya dikerjakan oleh para putri dibantu para abdi dalem. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Murdijati Gardjito dari Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad, membatik di lingkungan kraton merupakan pekerjaan domestik para perempuan. Sebagai perempuan Jawa, ada keharusan bisa membatik, karena membatik sama dengan melatih kesabaran, ketekunan, olah rasa, dan olah karsa.

Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, ia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelasuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti “pereng” atau tebing berbaris.

Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana.

Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Kraton Surakarta kepada Kraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan kraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik.

Kalaupun batik di kraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta. Ketika tahun 1813, muncul Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta akibat persengketaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Letnan Gubernur Inggris Thomas Stamford Raffles, perpecahan itu ternyata tidak melahirkan perbedaan mencolok pada perkembangan motif batik tlatah tersebut.

Menurut KRAy SM Anglingkusumo, menantu KGPAA Paku Alam VIII, motif-motif larangan tersebut diizinkan memasuki tlatah Kraton Puro Pakualaman, Kasultanan Surakarta maupun Mangkunegaran. Para raja dan kerabat ketiga kraton tersebut berhak mengenakan batik parang rusak barong sebab sama-sama masih keturunan Panembahan Senopati.

Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri kraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar, dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan antara pola batik Kraton KasultananYogyakarta dan warna batik Kraton Surakarta.

Jika warna putih menjadi ciri khas batik Kasultanan Yogyakarta, maka warna putih kecoklatan atau krem menjadi ciri khas batik Kraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Kraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Kraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya.

Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman, yakni Pola Candi Baruna yang tekenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal, antara lain: Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barong Bintang Leider, dan sebagainya.

Begitulah. Batik painting pada awal kelahirannya di lingkungan kraton dibuat dengan penuh perhitungan makna filosofi yang dalam. Kini, batik telah meruyak ke luar wilayah benteng istana menjadi produk industri busana yang dibuat secara massal melalui teknik printing atau melalui proses lainnya. Bahkan diperebutkan sejumlah negara sebagai produk budaya miliknya.

Barangkali sah-sah saja. Tetapi selama itu masih bernama batik, maka sebenarnya tak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa pemilik aslinya. Bukankah kata “batik” (amba titik), sudah menjelaskan dari mana asal muasal bahasanya?

sumber: javabatik.org


read more...